SEKILAS INFO
21-02-2024
  • 5 bulan yang lalu / Visi SMP Negeri 3 Maos : “Terwujudnya Lulusan yang Beriman, Berakhlak Mulia, Berprestasi, Memiliki Kompetensi Literasi dan Numerasi, Berkarakter Pelajar Pancasila, dan Berwawasan Lingkungan”
  • 1 tahun yang lalu / Selamat Datang di Website Official  SMP Negeri 3 Maos
11
Mar 2023
0
Sehelai Bendera Merah Putih Curian - Vani Indra (sebuah cerita mini)

Keringatku yang deras menetes membasahi kening dan bajuku tak kupedulikan lagi. Aku berlari dan terus berlari. Tujuanku hanya satu, yaitu rumah Mak Inah. Rumah reot di tepi ladang yang sudah sedikit miring ke kiri. Aku membayangkan wajah rentanya tersenyum ketika menerima buah tanganku.

Mak Inah hidup sebatang kara. Umurnya hampir 90 tahun. Suami Mak Inah telah lama meninggal. Suami Mak Inah gugur ditembak Belanda ketika berdiri dengan gagah mengibarkan bendera merah putih untuk mengobarkan semangat juang prajurit di suatu pertempuran sengit demi mempertahankan desa. Suami Mak Inah gugur dengan memeluk sehelai bendera merah putih yang baru saja dikibarkannya.

Setiap menjelang malam, Mak Inah duduk sendiri di teras rumahnya. Semua tetangga yang lewat dan bertanya, Mak Inah selalu menjawab ia sedang menunggu suaminya pulang. Kadang ada tetangga yang peduli kepadanya, menemaninya duduk untuk sekedar menjadi teman mengobrolnya. Kadang juga ada tetangga yang dengan tega mengatakan bahwa suami Mak Inah tidak akan pernah pulang. Sungguh malang nasib Mak Inah.

Bulan Agustus adalah bulan yang ditunggu-tunggu semua warga. Akan ada banyak kegiatan dan lomba. Puncaknya, tasyakuran di malam tanggal 17 Agustus untuk memanjatkan doa demi kesejahteraan bersama. Semua orang sibuk sedari awal bulan. Dimulai dari gotong royong warga memasang pagar bambu dengan warna merah putih, umbul-umbul, lampu kelap-kelip, persiapan lomba-lomba khas 17an, dan tidak tertinggal bendera merah putih. Bendera kebanggaan yang dikibarkan di tiang bambu setinggi 3 meter. Semua warga bersuka cita. Namun suka cita itu seakan tak dirasakan oleh Mak Inah. Jangankan lampu kelap-kelip atau umbul-umbul, bendera merah putih pun tak tampak di depan rumahnya walau sehelai. Batinku teriris.

Aku celingukan. Setelah kurasa tidak ada orang yang melihatku, kusambar satu tiang bendera dari bambu paling pinggir, segera kucopot benderanya dan langsung kubawa berlari. Iya, aku larikan sehelai bendera merah putih dari depan pagar keliling rumah Pak Kurdi yang lebih lebar dari pagar kantor kepala desa. Aku belum pernah melakukan ini seumur hidupku. Aku merasa sangat bersalah. Namun rasa salahku kutepis manakala aku ingat Pak Kurdi dengan lantang mengatakan bahwa ia adalah orang paling kaya di kampung ini. Saking kayanya, apa saja bisa ia beli. Ah, aku rasa sehelai bendera tidak ada apa-apanya dibadingkan dengan kekayaannya.

Aku hampir sampai di rumah Mak Inah. Keringatku masih deras menetes. Dadaku naik turun mengatur nafas. Ada rasa deg-degan ketika hendak bertemu dengan Mak Inah. Tangan kananku yang menggenggam bendera merah putih sedikit gemetar. Aku coba tutupi dengan menyembunyikan di balik badanku. Kugenggam bendera merah putih itu erat-erat.

Kudapati Mak Inah yang sedang duduk sendiri di depan rumah reotnya. Setelah mengucap salam, langsung aku ulurkan tangan kanan gemetarku yang menggenggam bendera merah putih.

“Mak, aku bawakan sehelai bendera merah putih. Aku bantu pasang di depan rumah ya, Mak. Malam ini malam 17 Agustus, Mak. Semua warga bersuka cita. Aku harap, dengan sehelai bendera merah putih ini, Mak bisa ikut bersuka cita bersama warga. Kita sudah lama merdeka, Mak”.

Mata Mak Inah berkaca-kaca. Sembari tersenyum, dengan suara yang bergetar, ia menyahut,

“Terima kasih, Ustadz Badal. Kau mengantar suamiku pulang”.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Pengumuman

Pengumuman PPDB SMP Negeri 3 Maos Tahun Pelajaran 2023/2024

Jurnal PPDB 2023

Data Sekolah

SMP Negeri 3 Maos

NPSN : 20300550

Jl. Stasiun No. 566 Maos
KEC. Maos
KAB. Cilacap
PROV. Jawa Tengah
KODE POS 53273