SEKILAS INFO
23-04-2021
  • 4 bulan yang lalu / LIBUR semester gasal tahun ajaran 2020/2021 mulai tanggal 21 Desember 2020 s/d 4 Januari 2020
  • 6 bulan yang lalu / Dalam rangka mematuhi anjuran Pemerintah dalam mencegah Perkembangan Pandemik Covid 19 Maka Kegiatan Belajar di Lingkungan SMPN 3 Maos dilaksanakan Secara Daring. Terima Kasih
  • 2 tahun yang lalu / Selama Pandemi Covid 19, Kegiatan Belajar Mengajar di SMPN 3 Maos dilaksanakan Secara Daring Melalui E-Learning Sekolah.
5
Jan 2021
0
Cerita Inspiratif - Jangan Halangi Tumbuhku

Aku sebuah pohon yang ingin hidup seperti kawan-kawanku. Namaku Kersen. Keren kan! Seperti nama gadis pujaan. Mestinya Aku sangat beruntung karena memiliki Tuan yang sangat perhatian kepadaku. Namun tidak demikian yang terjadi.  Nasibku bahkan kurang beruntung karena kepedulian Tuanku justru sering mendukakan hati. Setiap kali aku ingin bertumbuh selalu dihalangi. Sudah tiga kali aku dibuat jengkel oleh Tuanku.

Pertama kali Aku tumbuh di sela-sela pasangan ubin di halaman rumah Tuanku. Batang tubuhku masih kecil. Hanya ada tiga daun kecil di kepalaku. Kira-kira dua puluh centimeter tinggiku dan baru seminggu usiaku. Saat itu Tuan memperhatikanku. Diamatinya batang tubuh dan daun kecil yang tumbuh di kepalaku. Lama-lama dikenalinya diriku. Namun, belum beruntung nasibku. Dicabutnya tubuhku sampai pada akarku. Hampir tak tersisa potongan akarku. Untung meskipun masih kecil sudah kutempelkan sejulur akar melekat kuat di bawah ubin berbatu sehingga tak tercabut oleh Tuanku. Terasa lemah tubuhku. Tak ada kekuatan lagi untuk menegakkan tubuhku.

Dengan susah payah aku mencoba bangkit. Kutata hati dan pikiranku. Dengan segala kekuatan dan kemampuan, kukumpulkan tenagaku untuk mencoba tumbuh kembali. Aku berusaha untuk tumbuh dengan penampilan lebih baik lagi. Siapa tahu Tuanku simpati padaku. Pelan-pelan aku bangun dan tumbuh.

Kini usiaku sudah tiga minggu. Senang rasanya aku bisa berkenalan dengan pohon di sekelilingku. Mereka menyambutku dengan penuh harap bisa bersahabat dan berteman akrab. Sungguh bahagia rasa hatiku.

Seperti biasa Tuanku setiap hari lewat di sampingku. Sekian lama tak menghiraukanku sehingga aku bisa leluasa merawat diriku. Entah kenapa, ada rasa was-was setiap kali aku berpapasan dengan Tuanku. Sepertinya belum ada tempat bagiku di hatinya.

Kedua kalinya aku terluka, tubuhku dicabutnya. Sakitnya melebihi yang dulu pernah terjadi. Tuanku keras kepala tak pernah mau mengerti tentang diriku. Ia tak memperbolehkan aku tumbuh kembali. Semalaman aku menangis tak habis-habis. Tubuhku terkikis secara tragis. Mengapa begini?

Jiwaku merana mengembara jauh ke angkasa. Benih benci mulai mengganggu tekad diri. Tak ada tambatan hati. Mencari Sang Hyang Widhi untuk mencurahkan isi hati. Tolonglah aku dari perlakuan Tuanku yang tak mau tahu. Bagaimana pola pikirmu? Hentikan tindakanmu!

Aku sudah menyuarakan hati nuraniku. Namun tak pernah ia mendengarnya. Kenapa ya aku tak pernah kau izinkan tumbuh besar. Rasanya aku bisa tumbuh sendiri tanpa campur tanganmu. Sekedar izin saja yang kuharapkan, serta sejengkal tanah untuk tempatku tumbuh. “Aku bisa cari makan sendiri dan tak akan merepotkanmu”, ujarku dalam hati.

Tak mengertikah kamu Tuan tentang diriku. Setiap malam aku selalu memohon pada Sang Hyang Widhi untuk mengabulkan permintaanku. Tuanku begitu egois memikirkan kemauannya. Sejumlah alasan mendasarinya untuk tetap bertahan pada pendiriannya. “Kau tidak boleh tumbuh di sini,” bentak Tuanku tak tergoyahkan.

Sangat kaku rupanya kebribadianmu. Belajarlah untuk membuka akal pikiranmu. Cakrawala pandangmu perlu kau lebarkan sayap agar bisa terbang jauh melihat indahnya suasana jauh di luar sana. Hasratku telah mendukakan hati. Betapa sedih hati ini. Tak seorang pun mau mengerti. Kau pandangi aku dengan sebelah mata. Bahkan tanpa mata. Barangkali mata hatimu perlu dicuci agar bersih bersinar menembus dunia.

Aku tak pernah putus asa. Sepanjang tujuanku baik. Aku selalu meminta pada semua. Setiap orang lewat kupanggil tuk ambil rasa simpatimu. Semua menggelengkan kepala tanda tak hiraukanku. Di sekitarku ada Pohon Nangka pun tak kuasa diam membisu tak terkata. Banyak pohon bunga di sekitarku hanya memandangiku tak mau membantu. Aku diperlakukan tak adil oleh Tuanku. Bahkan aku iri dengan sikap Tuanku mengapa rumput liar dibiarkan tumbuh tak pernah ditegur sapa. Seolah dibiarkan saja dia tumbuh memenuhi tanah miliknya.

Tuanku tak pernah mau tahu siapa sebenarnya diriku. Padahal niat ikhlas dalam benakku. Aku kan tumbuh jadi pohon yang memikat hatimu. Elok rupaku betapa besar manfaatku.  Aku tak pernah ragu akan janji dalam diriku. Kan kuberikan yang terbaik untukmu. “Please, Tuanku.”

Kini aku bertapa untuk sementara waktu. Barangkali ini kan membenahi emosiku. Tak layakkah bila diri ini tumbuh bersemi untuk meneduhkan hati. Kini aku semedi mudah-mudahan Tuanku segera mengerti bahwa kehadiranku kan memberi arti bagi masa depanmu nanti. Kini kusadari jika dalam diri ada hal yang harus dibenahi. Diriku kurang rendah hati untuk meraih sebuah mimpi. Amarah memaksakan kehendakku. Kebencian menyelimuti hati ini. Seolah orang lain selalu salah. Bertindak dengan cara memaksakan kehendak. Sungguh bodoh diri ini. Semoga Sang Hyang Widhi mengampuni.

Kini kutata hati ini dari segala keangkuhan hati. Banyak memohon ampunan atas semua kelakuan. Kucoba lagi tumbuh dengan reruntuhan motivasi. Kubangun semangat agar tidak tumbang lagi. Barangkali Tuanku mau percaya bahwa diriku punya perkasa untuk mengubah dunia. Perlahan-lahan kucoba bangkit kembali. Kali ini tubuhku tampil indah berseri. Tangkai dan dahan  tumbuh mengembang ke samping sehingga tampak meredupkan suasana dan meneduhkan pohon di sekelilingku. Bungga-bunga mulai menghiasi tubuhku. Pada akhirnya tumbuh pula buah di tubuhku. Tinggiku sudah mencapai setengah meter.  Rupanya Tuanku mulai tertarik padaku. Didekatinya aku, dibelai daunku, bahkan disiramnya aku. Sungguh itu cukup menyegarkan jiwaku. Terima kasih Tuanku.

Aku sangat bahagia. Tiap pagi Tuanku memandangiku lalu menghampiriku. Rupanya dia sudah mulai sayang padaku. Setiap hari ia memperhatikanku. Tiada sedetikpun tampa memandangku. Kini amat sering Tuanku sengaja duduk di teras rumahnya sambil memandang keindahan tubuhku. Bahkan berharap agar aku segera tumbuh tinggi menjulang.

Suatu pagi Tuanku membelaiku. Betapa terheran Tuanku melihat ulat berbulu putih menempel di tubuhku. Aku pun tak tahu mengapa tiba-tiba ada di punggungku. Tanpa pikir panjang diambilnya golok tajam lalu dipangkaslah diriku sampai pangkal pohon. Saat ini Tuanku sungguh amat jijik melihat diriku. “Jangan sekali-kali muncul dihadapanku,” katanya. Tuanku tidak pernah lagi berharap aku tumbuh di halamannya. Musnah sudah harapanku, gara-gara seekor ulat di tubuhku mampuslah cita-citaku. Teramat sangat menderita diriku. Berkali-kali aku berusaha bangkit. Terus bangkit dan bangkit terus. Namun, apa daya perjuanganku telah kalah. Penderitaanku bertambah-tambah berat. Hasratku melemah lunglai peloh roboh. Penderitaanku sangat menyayat hati bagai diiris sembilu. Pedih jiwa merintih. Jalanku tertatih-tatih bagai domba disembelih.

Kini aku harus bagaimana? Jiwaku merana. Aku tersiksa , bingung jadinya. Tapi aku belum mati. Masih ada napas dicelah lubang dan rongga batang ini. Sekian lama aku menyembunyikan diri. Tak pernah muncul ke permukaan. Di saat kutertidur pulas , kuterbangun dalam mimpi. Datanglah Sang Hyang Widhi menepuk dahi sambil mengucap, “ Tetaplah tegak berdiri, akar batang pohonmu teramat kokoh menopangmu. Jangan menjadi layu. Banyak jiwa menantimu.”

Kata-kata itu terngiang dalam benakku. Apa yang kini kan menimpaku. Akankah ada kehidupan lagi untukku. Kurenungkan mimpi itu sambil berserah sumarah pada Sang Hyang Widhi. Tempat aku meminta segala yang ada. Engkau yang Empunya Kuasa.  Segala perkara dapat ditanggungnya. Dipundaknya kulepas beban beratku. Menanti seberkas cahaya tuk menyinari kegelapan hidupnya. Kepadamu aku mengadukan setiap penderitaanku. Yang telah dianiaya sesamaku. Tak pernah terbersit untuk membalas. Penganiayaan tanpa batas yang membuat jiwa semakin panas.

“Mari temanku, jangan pernah bertopang dagu!” ajak Pohon Pisang sambil menasihatiku. Hilangkan sendu hatimu. Terus berjuang dan berupaya wujudkan cita-cita. Jangan pernah menyerah untuk meraih hadiah. Ya sudahlah. Aku mulai melangkah. Kucoba dan kucoba. Bangkit dan bangkit. Kususun kekuatan baru yang sudah diajarkan Sang Hyang Widhi kepadaku. Kali ini aku nurut kehendakmu. Kutinggalkan keakuanku. Kutinggalkan gaya hidupku yang lama. Biarlah semua terjadi bukan karena kehendakku. Kini Sang Hyang Widhi yang berkarya dalam jiwaku. Hampir semua karena karyamu. Kubuang pakaianku. Kini kupakai tubuh baruku. Kucoba tumbuh dengan semangat baru.

Kini kutumbuh dengan baju baru. Pohon, dahan, dan rantingku diciptakan dengan merk baru. Sungguh tak kuduga semuanya serba luar biasa. Tubuh pohonku tercipta dengan desain baru. Hampir dikata jika hidupku bukan aku lagi tapi Sang Hyang Widhi mengatur kemauanku. Kuikuti saja perintahnya. Tubuhku dirawatnya. Mengembang rindang menjulang tinggi mengharum bau mempesona memikat hati setiap orang yang memandangi diriku. Tubuhku tumbuh dengan pribadi yang menarik.

Teman-teman di sekelilingku bertanya dalam hati. Sudah tiga kali kau dihalangi Tuanmu tapi kau tak pernah menyerah. Bahkan kini kau tampil penuh percaya diri. Pohon-pohon di sekelilingmu kau lindungi. Di saat temanmu kepanasan karena tajamnya matahari, kau hadir memberi keteduhan. Di saat temanmu kelaparan kau hadir membawa makanan. Di saat temanmu kehausan kau hadir memberi minum. Di saat temanmu sedih kau menghiburkan. Hidupmu untuk orang-orang di sekitar yang membutuhkanmu.

Kau tak pernah memikirkan untuk kepentingan dirimu. Pohon-pohon di sekitarmu merasa senang denganmu. Bunga-bunga menghiasi tubuhmu menjadikan kau semakin tampan parasmu. Bahkan kini tumbuh buah lebat di dahan dan ranting tubuhmu. Semakin tua buahmu menjadi merah warnamu. Lebat bergantungan di dahan tubuhmu. Setiap orang lewat selalu terpikat olehmu. Tersenyum-senyum menawan di bawah rindangnya tubuhmu. Sesekali pula orang-orang memetikmu dan menikmati buahmu. Setiap hari muncul warna merah di buahmu yang menjadikan semakin banyak orang yang terpikat denganmu.

Kini aku menjadi pujaan hati banyak orang. Bahkan karenaku, Tuanku dipuji-puji orang. Mereka mengucapkan banyak terima kasih pada Tuanku. Katanya berkat buah dari tubuhku mereka kini bisa sembuh dari penyakit. Orang lumpuh bisa berjalan gara-gara setiap hari memakan buah dari tubuhku. Kini pohon Kersen memberi manfaat bagi banyak orang.

Sekarang Tuanku tidak lagi marah padaku. Bahkan dia pun memanfaatkanku untuk mengobati penyakit asam urat yang sudah dideritanya sekian waktu. Tuanku merasa bersalah atas perlakuannya pada diriku. Tak apalah semua menjadikan jalan untuk bisa mengerti. Tuanku sangat berterima kasih dan meminta maaf  bila telah memperlakukanku seenak sendiri. Kini dia menjadi Tuanku yang sangat peduli. Kami  selalu hidup berdampingan saling berbagi. [tamat]

Agenda

Pengumuman

Pelatihan Pembelajaran Daring Melalui LMS

PAS-1 Tahun Pelajaran 2020/2021

Data Sekolah

SMP Negeri 3 Maos

NPSN : 20300550

Jl. Stasiun No. 566 Maos
Kecamatan Maos
Kabupaten Cilacap
Propinsi Jawa Tengah
Kode Pos 53273